Cerita mob sebagai salah satu dongeng yang berkembang dalam
masyarakat Papua pada umumnya, tidak terkecuali dalam suku-suku pendatang yaitu
individu-individu yang bukan keturunan asli rakyat Papua, tetapi keluarga dan
turunan dari para perantau dari belahan Indonesia yang lainnya. Cerita mob
mengandung nilai-nilai candaan dan persahabatan, dimana melalui cerita mob,
setiap individu baik pendengar maupun pendongengnya terlibat dekat dalam
situasi emosional yang positif yaitu penuh tawa, keriangan, dan keakraban yang
erat.
Dalam sebuah studi yang dilakukan Mulkhan (2007) menunjukkan
bahwa tradisi, mitologi, dongeng rakyat (folk
belief) dan kebiasaan hidup sehari-hari warga mempengaruhi dinamika
kehidupan masyarakat dalam konteks makro. Selain sebagai sumber kearifan lokal,
cerita mob juga sebagai representasi dan ekspresi pengalaman panjang warga
masyarakat yang mencakup aspek ekonomi, sosial, politik, kesehatan dan
ketuhanan.
Cerita mob diwariskan dari generasi ke generasi sebagai
sarana komunikasi dan penguat tali kekerabatan diantara warga masyarakat.
Menilik sejenak dari kejauhan Papua, banyak isu yang berkembang di masyarakat
Papua, baik itu yang bersifat kesukuan, keagamaan, ketidakadilan etnis, dan
sebagainya berkembang cukup besar yang seringkali memicu terjadinya tindak
kekerasan baik yang berlandaskan atas alasan perbedaan etnis, agama, dan warna
kulit.
Pandangan stereotip antarsuku, antaretnis, karena perbedaan
warna kulit, dan sebagainya sudah cukup mengkhawatirkan sehingga Papua
seringkali dianggap daerah rawan konfliks bagi sebagian besar penduduk
Indonesia. Mendengar kata Papua, yang terbesit secara umum adalah kerawanan
konfliks di sana.
Kenyataannya, semua itu dapat diminimalisir dengan
pemanfaatan kearifan lokal yaitu melalui cerita mob. Penulis menyusun paper ini
berlandaskan pada pengalaman penulis saat berada di Papua beberapa waktu yang
cukup lama. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan membuka wacana baru dalam
mewujudkan Papua yang aman dan damai. Salam positif.
B. KONDISI KEMASYARAKATAN DI PAPUA
Pada tahun 2001, Pemerintah Indonesia mengesahkan UU No. 21
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua. Lahirnya otonomi khusus
bagi Papua ini dilatarbelakangi oleh faktor belum berhasilnya pemerintah dalam
memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan pengakuan terhadap hak-hak dasar
rakyat Papua. Kondisi masyarakat Papua dalam bidang pendidikan, ekonomi,
kebudayaan dan sosial politik masih memprihatinkan. Selain itu,
persoalan-persoalan mendasar seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia dan
pengingkaran terhadap hak kesejahteraan rakyat Papua masih belum dapat
diselesaikan secara adil dan bermartabat.
Pasal 1 angka 1 UU
No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua menyatakan
bahwa otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Propinsi
Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua.
Otonomi khusus untuk Papua yang bertujuan mengurangi kesenjangan antara Propinsi
Papua dan Propinsi lain, meningkatkan taraf hidup masyarakat di Propinsi Papua,
serta memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua, diyakini oleh sebagian
besar masyarakat lebih mengedepankan unsur politis yang bersifat populis
daripada upaya pemajuan Papua. Selain itu, otonomi khusus yang pada dasarnya
bertujuan untuk membantu Papua keluar dari kertinggalan ekonomi, memiliki
banyak kelemahan dari segi implementasi.
Selain itu, kesenjangan dalam pelaksanaan otonomi khusus
yang berakar dari tingkat kepercayaan secara vertikal antara negara dan
masyarakat Papua telah mempengaruhi hubungan horizontal atau di antara
masyarakat. Ketidakpercayaan tersebut menyebabkan kegundahan sosial dan reaksi
keras dari masyarakat Papua, dan merusak stabilitas perdamaian di Papua.
Masyarakat Papua yang pada dasarnya merupakan masyarakat
yang terpecah-pecah terdiri atas berbagai kelompok etnis diperparah dengan
perpecahan lainnya setelah otonomi khusus. Kurangnya kepercayaan yang
menciptakan rendahnya tingkat keamanan manusia dan modal sosial, menghambat
pelaksanaan otonomi khusus di Papua.
United Nations Development Programme (UNDP) telah mengidentifikasi
sembilan dimensi keamanan manusia yang mencerminkan daftar penyebab
ketidakamanan manusia (human insecurity)
dan agenda pembangunan manusia: 1) keamanan ekonomi, 2) keamanan keuangan, 3)
keamanan pangan, 4) keamanan kesehatan, 5) keamanan lingkungan, 6) keamanan
pribadi, 7) keamanan gender, 8) keamanan masyarakat dan 9) kemanan politis.
Menurut UNDP, penguatan keamanan manusia memerlukan
perhatian atas setiap dimensi di atas. Di sisi lain, modal sosial secara
sederhana diartikan sebagai serangkaian nilai-nilai informal yang diintisarikan
dari norma-norma yang dimiliki anggota kelompok tertentu yang membuat mereka
dapat bekerja sama antara satu dengan lainnya.
Masalah saling tidak percaya merupakan salah satu penyebab
yang krusial dalam pemahaman masyarakat tentang upaya menjaga keamanan Papua.
Terlepas dari semua isu-isu yang muncul mengenai pelaksanaan otonomi khusus
Papua, kondisi yang mengarahkan pada perpecahan masyarakat, pendidikan tidak
membawa perubahan pada sifat dan mental hidup, dan sumber daya alam yang
melimpah tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan masyarakat
Papua, ketidakpercayaan muncul diantara etnis, baik antara suku asli Papua dan
suku pendatang menjadi isu yang perlu disoroti lebih jauh untuk diminimalisir
dari segi-segi yang lebih halus, dalam hal ini adalah cerita mob.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemanfaatan kearifan lokal
dalam upaya mendukung terciptanya kondisi aman berawal dari munculnya keakraban
diantara anggota masyarakat baik secara etnis maupun agama yang diharapkan
dengan adanya keakraban tersebut mengarah pada bertumbuhnya rasa kepercayaan
diantara anggota masyarakat yang nantinya menciptakan kondisi yang saling
mendukung kestabilan keamanan masyarakat Papua.
C. CERITA MOB SEBAGAI KEARIFAN LOKAL PAPUA
Cerita mob sebagai suatu cerita pendek yang dikemas dalam sensasi
humor yang pada umumnya dikumandangkan saat masyarakat Papua berkumpul bersama
di waktu-waktu santai. Cerita mob sebagai seuatu cerita pendek adalah suatu
bentuk prosa naratif-fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada
tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan
novel.
Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses
mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan
dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis. Seperti
dalam cerita pendek, cerita mob berasal dari anekdot, sebuah situasi yang
digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada
tradisi penceritaan lisan.
Dengan munculnya novel
yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan
contoh-contoh dalam cerita-cerita karya yang berkembang dalam masyarakat Papua,
yang dikenal sebagai mob. Cerita mob ini biasanya disajikan dalam bentuk verbal
(auditoris) untuk menyejukkan suasana keakraban diantara individu-individu yang
sedang berkumpul. Keunikan cerita mob sebagai perekat suasana akrab dan sebagai
potensi lokal membuat cerita mob sering dilakukan oleh masyarakat yang
berdomisili di Papua, tidak hanya suku-suku asli Papua, tetapi juga para suku
pendatang dari luar Papua. Kemajemukan suku terpadu menjadi sebuah kelompok
yang kohesif dan penuh keakraban dalam wadah dongeng mob tersebut. Berbicara
soal kebermanfaatan cerita mob sama halnya dengan cerita lucu lainnya yang bisa
membuat orang tertawa. Sebuah jurnal penelitian selain bisa melekatkan
keakraban diantara individu, tertawa membuat orang lebih sehat, membakar
kalori, mencegah kelumpuhan fisik, meredakan stres, membantu awet muda, dan
bentuk olahraga ringan.
Sebagai kearifan lokal banyak potensi dari cerita mob yang
belum terkaji melalui penelitian-penelitian ilmiah. Potensi dapat ditumbuh
kembangkan dalam rangka aspek yang lebih luas, misalnya menjaga kepaguyuban
diantara warga yang bertempat tinggal di Papua. Penulis akan mengkaji ini dalam
sub bab berikutnya dalam topik pemanfaatan cerita mob sebagai wadah
meminimalisir kekerasan baik dengan alasan etnis, agama, warna kulit, dan lain
sebagainya.
D. PEMANFATAAN CERITA MOB SEBAGAI FAKTOR PENGURANG TINDAK
KEKERASAN ANTAR ETNIS, AGAMA, DAN WARNA KULIT
Menilik keunikan dari cerita mob mulai dari waktu-waktu
biasanya dilantunkannya, konten, dan manfaat. Penulis berasumsi bahwa sebagai
kearifan lokal, cerita mob juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pemersatu
masyarakat. Melalui dilantunkannya cerita mob, elemen-elemen masyarakat yang
berbeda latar belakang berkumpul bersama untuk mendengar cerita tersebut dalam
rangka menjalin silaturahmi. Kondisi inilah yang diasumsikan dapat memicu
kekohesivan antarindividu yang memunculkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan
yang tinggi diantaranya.
Melantunkan cerita mob berarti membuat masayarakat yang
berbeda latar belakang untuk berkumpul dan terjadi proses positif dimana
tertawa bersama adalah bagian yang lumrah terjadi. Tidak dapat dipungkiri,
tertawa membuat seseorang menjadi bahagia, mengurangi stres, dan menjaga
kesehatan tubuh, tetapi manfaat psikologis secara sistem dapat terjadi baik
secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan adanya kedekatan fisik
mempengaruhi keakraban emosional diantara individu-individu yang berkumpul
dalam suatu forum lantunan cerita tersebut. Inisiatif keakraban dapat muncul
dengan sadar oleh setiap individu yang terlibat di dalamnya melalui proses
merasa sebagai suatu kelompok, perasaan ini memunculkan rasa saling mendukung
secara emosional, dan pada akhirnya mempengaruhi sikap setiap individu terhadap
individu lainnya.
Kebahagiaan dari proses tertawa bersama menjadi tolak ukur
awal munculnya rasa menghargai, saling percaya, dan saling mendukung diantara
individu. Harapannya, melalui proses tersebut individu bisa mengenal dengan
akrab setiap individu dalam forum tersebut.
Manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu mengadakan
hubungan atau interaksi dengan orang lain. Oleh karena itu, manusia secara
alamiah akan membentuk kelompok-kelompok yang akan berpengaruh dalam
kehidupannya. Sejak kelahirannya di muka bumi, manusia telah memiliki kelompok
pertama yang disebut kelompok formal-primer yaitu keluarga, dimana kelompok ini
merupakan salah satu dari jenis kelompok-kelompok yang paling berkesan bagi
setiap individu.
Namun, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya
individu pun mulai melepas hubungan-hubungan keluarga itu, dan memasuki dunia
luar untuk melakukan berbagai kegiatannya dan bertemu dengan manusia lain yang
memiliki kesamaan tujuan, kepentingan, dan berbagai aspirasi lainnya (Bungin,
2006:47-48). Di dalam kelompok, setiap anggota kelompok saling berinteraksi,
berkomunikasi dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Hal ini disebabkan
individu akan memilih kelompok yang memiliki nilai-nilai, minat dan tujuan yang
sama dengan mereka sebelum memasuki suatu kelompok. Dengan demikian, mereka bisa saling berbagi informasi,
pengalaman, dan pengetahuan dengan anggota lainnya.
Melalui kelompok yang membagi cerita mob ini, akan terjadi
suatu dinamika dimana timbul dan tumbuhnya perasaan menjadi satu kesatuan. Michael
Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human
Communication, A Revision of Approaching Speech/ Communication, memberi
batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih
individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagi
informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota
dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan akurat.
Tumbuhnya perasaan ini menyebabkan kepercayaan antar
individu di dalam kelompok cerita tersebut berkembang. Keterlibatan individu
dari berbagai kelompok etnis budaya, agama, dan sebagainya dalam kelompok
cerita mob membantu tumbuhnya rasa kepercayaan dan saling menghargai diantara
perbedaan tersebut. Implikasi yang diharapkan yaitu toleransi antar etnis
budaya, agama, dan sebagainya meningkat dan kekerasan karena perbedaan tersebut
dapat diminimalisir.
Anthony Smith mengatakan bahwa ada ketidakstabilan inheren
dalam inti konsep yang tampaknya terombang-ambing di antara dua kutub etnis
(komunitas atau individu) menentukan terjadinya konfliks atau kekerasan antar
etnis. Hal tersebut juga berlaku bagi perbedaan-perbedaan lainnya seperti warna
kulit.
Ukuran besarnya konflik merupakan salah satu variabel
terpenting dalam menentukan kemungkinan penyelesaiannya. Konflik yang besar
dapat diperkecil dengan mengurangi persepsi pesertanya mengenai kepentingan
yang berbeda. Atau, yang menyusutkan apa yang dianggap penting dari yang
dipertaruhkan. Melalui ajang berkumpul bersama bertukar cerita mob inilah
individu-individu dari beragam latar belakang saling memahami dan pada akhirnya
mengubah persepsi stereotip yang tadinya negatif menjadi positif. Cerita mob
dan ajang berceritanya diharapkan dapat menjadi suatu kearifan lokal alternatif
sederhana untuk meminimalisir konfliks atau kekerasan karena perbedaan latar
belakang, baik suku, warna kulit, ras, agama dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Konfliks
Etnis. Diadaptasi dari http://azizfahri.blogspot.com/2011/04/konflik-etnis.html Pada Tanggal 5 Juni 2012.
Mulkhan,
Abdul Munir. Pembelajaran Filsafat Berbasis kearifan Lokal. Jurnal Filsafat
Volume 17, Nomor 2, Agustus 2007.
Soetandyo
Wignosubroto, dkk. 2005. Pasang Surut Otonomi Daerah. Jakarta: Institute for
Local Development.
Sugandi,
Yulia. 2008. Analisis Konflik Dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua.
Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung (FES).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar