I. PENDAHULUAN
Psikosa (psychosis)
merupakan bentuk gangguan mental yang ditandai dengan adanya diorganisasi
kognitif, diorientasi waktu, ruang, orang, serta adanya gangguan dalam
emosionalnya. Keadaan tersebut
menyebabkan penderita mengalami disintegrasi kepribadian, yang dapat
menyebabkan terputusnya hubungan dirinya dengan realita, bahkan dapat menggangu
fungsi sosialnya. Pada beberapa kasus
disertai adanya halusinasi dan delusi.
Menurut Kartini
Kartono (1989), psikosa dibagi dalam dua golongan, yaitu: organic psychosis
(psikosa organik) dan functional psychosis (psikosa fungsional). Organis psychosic disebabkan oleh adanya
gangguan pada faktor fisik/organik dan faktor intern, yang menyebabkan
penderita mengalami kekalutan mental, maladjusment, dan inkompeten secara
sosial. Pada umumnya penyakit ini
disebabkan oelh adanya gangguan pada
otak serta fungsi jaringan-jaringan otak (terjadi organic brain disorder). Hal ini mengakibatkan berkurangnya/rusaknya
fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan dan kemauannya.
II. ORANIC MENTAL DISORDER
Gangguan mental organik merupakan gangguan-ganguan yang
dikaitkan dengan disfungsi otak secara temporer atau permanen. Oeh karena itu, ganguan mental organik
disebut juga organic brain syndromes, yang dikelompokkan dalam 7 tipe (Choca,
1980), yaitu :
|
No.
|
Nama Gangguan
|
Karakteristik utama
|
|
1
|
Demensia
|
Gangguan fungsi
intelektual
|
|
2.
|
Delirium
|
Gangguan konsentrasi dan
kesadaran
|
|
3.
|
Sindrom amnesic
|
Gangguan memori
|
|
4.
|
Sindrom delusi organic
|
Munculnya
khayalan-khayalan
|
|
5.
|
Halusinasi organik
|
Munculnya halusinasi
|
|
6.
|
Sindrom mental organik
|
Gangguang pada fungsi
emosi
|
|
7.
|
Intoksikasi
|
Gangguan intelektual dan
fungsi motorik
|
|
8.
|
Withdrawals
|
Gangguan intelektual czn
fungsi motorik
|
Gambaran umum gangguan mental organik (Rathus &
Nevid, 1991) yaitu :
1.
Penurunan fungsi intelektual dan memori
2.
Gangguan dalam bahasa (language) dan berbicara
(speak)
3.
Disorientasi waktu, ruang, dan orang
4.
Gangguan motorik
5.
Gangguan dalam pembuatan keputusan tindakan
6.
Ketidakstabilan perasaan dan emosi
7.
Perubahan kepribadian
Sulit untuk
melakukan diagnosa yang tepat pada perilaku abnormal yang disebabkan oleh
faktor organik. Kerusakan otak
mengakibatkan simptom-simptom yang bervariasi, tergantung pada faktor lokasi
dan luasnya area kerusakan, dan adanya kemampuan penderita dalam mengatasinya,
serta adanya dukungan sosial (social support).
Kerusakan pada struktur terntu atau bagian yang mempunyai
fungsi tertentu, dapat menyebabkan terganggunya fungsi tersebut. Misal, bila yang mendapat gangguan kerusakan
adalah area bicara motoris, maka individu tersebut akan mengalami kesulitan
untuk berbicara (secara motorik).
Kerusakan pada area otak yang sama, tidak selalu
mengakibatkan pola simptom yang sama; mungkin dikarenakan terjadinya perubahan
minor pada tempat terjadinya kerusakan; mungkin karena faktor psikologis yang
berinteraksi dengan faktor organik.
Dengan mengetahui luas dan lokasi kerusakan pada otak dapat membantu
menentukan range dan beratnya kerusakan.
Makin meluasnya kerusakan otak, makin luas pula kerusakan pada
fungsinya.
Diagnosis dini dari simptom-simptom yang terjadi,
memungkinkan beberapa gangguan kondisi organik dapat segera diobati atau
dipulihkan, dengan menggunakan treatment yang tepat. Misal, treatment yang tepat untuk tumor otak
adalah dengan pembedahan/operasi, bukan dengan psikoterapi.
Pada umumnya, gangguan mental organik disebabkan oleh
kerusakan atau trauma otak, penyakit (disease), ketidakseimbangan nutrisi.
Gambaran utama dari gangguan mental organik yaitu :
1.
Gangguan fungsi kognitif
Meliputi gangguan
daya ingat (memory), daya pikir (intelect), daya belajar (learning)
2.
Gangguan sensorium
Misalnya,
gangguan kesadaran (consciousness) dan perhatian (attention)
3.
Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam
bidang :
·
persepsi (halusinasi)
·
isi pikiran (waham/delusi)
·
suasana perasaan dan emosi (depresi, gembira, dan
cemas)
(PPDGJ-III, 1999)
III. DELIRIUM
Delirium berasal dari bahasa latin; de = dari, lira = garis/line:
yang berarti menyimpang dari garis atau norma, dalam persepsi, kognitif, dan
perilaku. Delirium merupakan sindrom
yang meliputi keadaan mental yang kacau dan kesulitan dalam meusatkan
perhatian/konsentrasi (Rathus & Nevid, 1991); yang mungkin disebabkan oleh
gangguan fisik seperti benturan pada kepala, infeksi otak, intoksikasi atau
pasca penggunaan zat-zat psikoaktif.
1.
Diagnosa dan gambaran umum penderita
- Gangguan kesadaran
Yaitu dari taraf
kesadaran berkabut sampai dengan koma
- Gangguan perhatian
Penderita
mengalami penurunan kemampuan untuk mengarahkan, memusatkan, dan mengalihkan
perhatian, sehingga penderita mengalami kesulitan untuk mengikuti pembicaraan
yang berpindah topik pada waktu yang hampir bersamaan. Penderita juga mengalami penurunan perhatian
terhadap lingkungannya.
- Gangguan kognitif secara umum
·
Penderita mengalami halusinasi (terutama halusinasi
visual), ilusi, dan distorsipersepsi Ikesalahan interpretasi pada stimuli
sensori)
·
Mengalami hendaya daya ingat dan pengertian abstrak,
dengan/tanpa waham yang bersifat sementara.
Tetapi sangat khas terdapat inkoherensi yaitu penderita tidak dapat
mengorganisasikan pikirannya (mengalami kekacauan), yang diperlihatkan dengan
berbicara melantur dan kacau (tidak mempunyai arti).
·
Mengalami hendaya daya ingat segera dan jangka
pendek, namun daya ingat jangka panjang masih utuh.
·
Mengalami diorientasi waktu. Pad kasus yang berat, terdapat juga
disorientasi tempat dan orang.
- Gangguan psikomotor
·
Penderita mengalami hipo atau hiper-aktivitas yang
tidak terduga. Terjadi fluktuasi yang
cepat antara keadaan gelisah (restlessness) dan keadaan pingsan (stupor).
·
Waktu bereaksi yang lebih panjang
·
Arus pembicaraan yang bertambah atau berkurang
·
Reaksi terperanjat meningkat
·
Melakukan gerakan yang tidak ada tujuannya dan tidak
tenang, misal memukul obyek yang tidak jelas.
- Gangguan siklus tidur-bangun
·
Penderita mengalami insomnia atau tidak bisa tidur
samasekali (pada kasus yang berat); atau mengalami terbaliknya siklus tidur
bangun, mengantuk pada siang hari.
·
Gejala-gejala makin memburuk pada malam hari dan
dalam keadaan tidak bisa tidur
·
Mengalami mimpi buruk dan sering terjaga dari
tidur. Mimpi buruk tersebut dapat
berlanjut menjadi halusinasi setelah bangun tidur.
- Gangguan emosional
Penderita dapat
mengalami depresi, anxietas, lekas marah, euforia, apatis, atau merasa
kehilangan akal.
- Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya
hilang-timbul sepanjang hari, dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6
bulan.
(Rathus & Nevid, 1991;
PPDGJ-III, kategori diagnosis F05)
2.
Faktor Penyebab
Delirium disebabkan oleh kombinasi
gangguan menyeluruh pada proses metabolisme otak dan ketidakseimbangan
neurotransmitter otak. Delirium dapat
terjadi secara tiba-tiba yang dikarenakan adanya trauma atau luka di kepala. Dapat juga berkembang secara bertahap selama
beberapa jam/hari yang secara umum disebabkan oleh infeksi, demam atau gangguan
metabolisme.
Secara umum,
delirium disebabkan oleh :
·
Infeksi
·
Trauma kepala
·
Gangguan metabolisme yang disebabkan oleh liver atau
ginjal, hipoglikemia, kekurangan thiamine, efek pembedahan, intoksikasi dan
pasca penggunaan zat psikoaktif.
·
Banyak faktor penyebab yangv tidak bisa
diidentifikasi
(Rathus &
Nevid, 1991)
3.
The DT’s (Delirium Tremens)
Kasus delirium banyak terjadi pada
pengguna drug yang secara tiba-tiba menghentikan penggunaannya, umumnya terjadi
pada kasus alkoholik.
Diagnosa dan gambaran umum
penderita :
·
Penderita mengalami diorientasi
·
Penderita mengalami gangguan persepsi dan dapat
menalami halusinasi hal-hal yang menakutkan
·
Penderita mengalami gangguan pemusatan perhatian dan
gangguan bicara (speech)
·
Mengalami gangguan kesadaran
·
Tremor terjadi dalam beberapa jam pertama setelah
menghentikan penggunaan drug.
·
Serangan kejang-kejang dapat terjadi setelah 24 jam
·
Delirium tremens dapat sembuh setelah seminggu atau lebih
4.
Treatment
Delirium dapat dipulihkan melalui
treatment yang tepat dengan mendasari pada kondisi organiknya. Treatment tersebut bisa sangat singkat,
biasanya berkisar satu minggu, dan jarang lebih dari sebulan. Jika kondisi fisik mengalami kemunduran,
dapat terjadi koma atau kematian.
Treatment terbaik di lakukan di
rumah sakit, karena penderita dapat dipantau perkembangannya dan dapat
dilakukan terapi obat (tranquilizers) untuk meringankan simptom-simptomnya
terutama pada penderita delirium tremens; serta akan mendapat dukungan (suport)
dari lingkungan.
IV. SINDROM AMNESTIK
(AMNESIA)
Sindrom amnestik
atau disebut juga amnesia, memiliki karakteristik utama terjadinya kemunduran
fungsi daya ingat (memoru) yang cukup tajam, baik memori jangka pendek
(short-therm memory) maupun memori jangka panjang (long-term memory).
Ada dua macam amnesia, yaitu :
1.
Amnesia disosiatif (PPDGJ-III:F44.0)
Yaitu amnesia
yang memiliki ciri utama hilangnya daya ingat, biasanya mengenai kejadian penting
yang baru terjadi (selective), misalnya kejadian yang traumatis atau stressful,
yang bukan disebabkan oleh gangguan mental organik, dan terlalu luas untuk
dijelaskan atas dasar kelupaan yang umum terjadi atau atas dasar kelelahan.
2.
Sindrom amnesik organik
Yaitu amnesia
yang disebabkan oleh adanya ganguan organik/fisik, yang akan dijelaskan pada
bagian berikutini :
Ada dua macam
amnesia yang disebabkan oleh gangguan mental organik :
a.
Retrograde amnesia, yaitu hilangnya ingatan tentang
kejadian-kejadian sebelum problem fisik yang menjadi penyebab amnesia
b.
Antedrograde amnesia, tidak dapat mempelajari atau
mengingat kejadian-kejadian setelah terjadi kerusakan (Mulyani, 1999).
1.
Diagnosa dan gambaran umum penderita
a..
Ketidakmampuan daya ingat
·
Hendaya memori jangka pendek, yaitu mengalami
ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal baru (lemahnya kemampuan belajar materi
baru). Penderita tidak mampu mengingat
orang atau nama orang yang baru ditemui lima atau sepuluh menit yang lalu.
·
Hendaya memori jangka panjang, yaitu mengalami
ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal atau pengalaman di masa lalu dalam
urutan terbalik menurut kejadiannya.
·
Daya ingat segera (immediate memory/recall) masih
berfungsi dengan baik , misal masih dapat untuk mengulang menyebutkan deret
angka.
c. Penderita tidak
mengalami gangguan perhatian (attention) dan kesadaran (consciousness). Fungsi intelektual secara umum masih baik.
d. Keadaan amnesia
ini membuat penderita merasa terganggua karena hilangnya identitas diri. Untuk menutupi hal ini, penderita mungkin
mengingkari problem memorinya ini atau kadang mengakuinya tapi tampak bersikap
tak acuh dan ditutup dengan obrolan.
(Rathus &
Nevid, 1991; PPDGJ-III, kategori diagnosis F04)
2.
Faktor Penyebab
Amnesia
dikategorikan sebagai akibat ganguan organik, secara umum disebabkan oleh :
- Traumatic event, yaitu terjadi benturan pada
kepala (trauma kepala), electric shock, dan operasi
- Penyebab non-tramatic event, yaitu :
·
Tumor kepala
·
Efek sekunder dari pembedahan pada otak
·
Infeksi (meningitis tuberkulosis, post-encephalitis,
herpes simplex)
·
Hypoxia (kekurangan oksigen pada otak secara
tiba-tiba)
·
Infarction (ganguan pembuluh darah otak sehingga
terganggu pula proses suplai zat-zat penting ke otak) yang lebih dikenal dengan
penyakit stroke.
- Penyebab lainnya yaitu akibat pemakaian alkohol
yang kronis
3.
Alcohol Amnestic Disorder
Gangguan amnesia
dapat juga disebabkan oleh penggunaan alkohol yang kronis. Diagnosis pada sindrom amnesik organik
alkoholik adalah :
a.
Sindrom amnesik yang disebabkan oleh zat psikoaktif
harus memenuhi kriteria umum untuk sindrom amnesik organik (PPDGJ-III: F04),
yaitu seperti yang tersebut di atas.
b.
Syarat utama untuk menentukan diagnosis adalah :
1)
Adanya gangguan daya ingat jangka pendek, gangguan
sensasi waktu (gangguan pada penyusunan kembali urutan kronologis, peninjauan
kejadian yang berulang menjadi satu peristiwa, dll).
2)
Tidak mengalami gangguan daya ingat segera (immdiate
memory/recall)
3)
Adanya riwayat atau bukti yang obyektif dari
penggunaan alkohol atau zat yang kronis (terutama dengan dosis tinggi)
(PPDGJ-III:
F10.6)
Menurut DSM-II-R (Rathus & Nevid, 1991), penyebab
umum sindrom amnesia adalah defisiensi thiamine yang disebabkan oleh penggunaan
alkohol yang kronis. Seorang alkoholis
cenderung tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuhnya, terutama
thiamine.
Alcohol amnestis disorder sehingga menyebabkandefisiensi
thiamine, sering juga disebut dengan Korsakoff’s syndrome, meskipun korsakoff’s
syndrome itu sendiri tidak hanya terbatas pada alkoholik.
Korsakoff’s syndrome seringkali diikuti oleh serangan
akut gangguan lain, yaitu Wernicke’s disease, yang memiliki karakteristik :
·
mengalami kebingungan (confusion) dan disorientasi
·
Ataxia, yaitu gangguan keseimbangan motorik kaki,
terutama bila sedang berjalan
·
Paralysis (kelumpuhan) otot-otot yang mengontrol gerakan mata.
Apabila simptom
pada Wernike’s disease hilang, penderita akan kembali pada keadaan korsakoff’s
syndrome dan mengalami gangguan daya ingat.
Menurut DSM-III-R, korsakoff’s
syndrome ini akan dialami sepanjang hidup, meskipun kondisinya sedikit membaik
(Rathus & Nevid, 19991). Kebanyakan
penderita korsakoff’s syndrome mengalami gangguan daya ingat jangka panjangnya.
4.
Treatment
Deteksi dan diagnosis dini terhadap
penyabab masalah gangguan ingatan sangat penting bagi kesembuhan penderitas
sebesar 20-30%. Dapat atau tidsknya
penderita untuk sembuh tergantung pada faktor penyebab amnesia, tetapi biasanya
tidak dapat sembuh secara tuntas.
Terutama apabila gangguan tersebut disebabkan karena adanya kerusakan
pada bagian subkortikal otak, tidak dapat disembuhkan, meski gangguan ini
jarang terjadi.
Treatment yang
umum dilakukan pada penderita amnesia adalah dengan pemberian obat-obatan yang
dapat memperbaiki peredaran darah pada otak (terutama korteks), sehingga suplai
nutrisi ke otak dapat tercukupi. Disamping
dengan pengobatan, terapi ingatan dapat membantu kesembuhan.
V. DEMENSIA
Demensia berasal dari kata de = keluar dan mens =
mental. Demensia merupakan gangguan
kognitif yang memiliki ciri menonjol adanya kemunduran ingatan secara
progresif, terganggunya kemampuan berbahasa (language) dan kordinasi motorik.
Menurut PPDGJ-III, demensia merupakan suatu sindrom
akibat gangguan otak yang biasanya, bersifat kronik-progresif, dimana terdapat
gangguan fungsi luhur kortikal yang multipel, termasuk di dalamnya: daya ingat,
daya pikir, orientasi, daya tangkap (comprehension), berhitung, kemampuan
belajar, berbahasa, dan daya nilai.
Umumnya disertai, dan ada kalnya diawali dengan kemerosotan dalam
pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi hidup.
Proses kemunduran mental atau fungsi intelektual pada
demensia tidak dapat disamakan dengan proses perubahan kemampuan intelektual
pada manula, karena pada kasus demensia lebih mengacu pada gangguan degeneratif
otak.
Demensia terjadi pada usia 65 tahun atau sebelumnya
disebut presenile dementia.
Simptom-simptomnya mulai berkembang cepat pada usia 40-50 tahun. Terjadi perubahan mental dan
kerusakan-kerusakan otak dari tingkat ringan sampai tingkat berat. Menunjukkan adanya riwayat keluarga yang
berpenyakit Alzheimer (PPDGJ-III: F00.0).
Sedangkan demensia yang terjadi di atas usdia 65 tahun disebut senile dementia, yang ditandai
dengan kemunduran fisik dan mental secara lamban dan progresif, dengan gangguan
daya ingat sebagai gambaran utamanya (PPDGJ-III: F00.1). Meskipun demikian, demensia dapat saja
terjadi pada semua tingkat umur.
1.
Diagnosis dan gambaran umum penderita
- Adanya kemunduran mental, seperti daya ingat,
daya pikir atau kemampuan problem solving, dan berpikir abstrak, yang
semuanya itu dapat menggangu fungsi sosial dan fungsi keseharian, seperti
: mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, dll.
- Kehilangan ingatan, mula-mula agak ringan,
makin lama makin parah sampai mereka tidak dapat mengingat informasi
baru. Dan makin lama tidak dapat
mengingat fakta mengenai dirinya dan kehidupannya.
- Afasia, yaitu kehilangan kemampuan menggunakan
bahasa karena kerusakan pada daerah bahasa di otak. Ada dua macam afasia :
·
Wernicke afasia :
dapat mengucapkan kata-kata, tapi tidak ada artinya
·
Broca afasia :
gangguan pada produksi, tapi pengertiannya masih ada
- Apraxia, yaitu kehilangan kemampuan melakukan
gerakan badan yang terkoordinasi yang disebabkan karena kerusakan otak.
- Agnoria, yaitu ketidakmampuan mengenal obyek
atau pengalaman yang akrab, meskipun ada kemampuan untuk mengamatinya
- Tidak ada gangguan kesadaran
- Gejala dan disabillity sudah nyata untuk paling
sedikit 6 bulan.
(PPDGJ-III;
Mulyani, 1999; Rathus & Nevid, 1991)
2.
Faktor penyebab
Penyebab utama demensia adalah
kerusakan otak yang progresif dan parah.
Sedangkan penyakit fisik yang dapat menyebabkan demensia adalah :
·
Penyakit otak : Alzheimer dan Pick
·
Multi-infarct demensia
·
Infeksi otak
·
Intoksikasi
·
Tumor kepala
3.
Treatment
Dalam beberapa kasus, demensia
dapat disembuhkan, terutama demensia yang disebabkan oleh tumor, infeksi yang
dapat disembuhkan, depresi, alkoholik.
Treatment yang tepat/sesuai dapat membantu proses kesembuhan. Kecuali pada demensia yang disebabkan penyakit
Alzheimer, tidak dapat disembuhkan.
4.
Demensia tipe Alzheimer
Penyakit Alzheimer
disebabkan karena sebagian besar jaringan pada korteks otak mengalami
degenerasi, juga syaraf mengalami degenerasi dan membentuk gumpalan jaringan
saraf yang abnormal (Mulyani, 1999).
Keadaan tersebut menyebabkan kemunduran fungsi mental secara progresif,
termasuk daya ingat, kemampuan bahasa (language), kemampuan problem solving.
5.
75 % dari kasus demensia disebabkan oleh Alzheimer
dan lebih banyak terjadi pada perempuan. Alzheimer dapat terjadi pada awal usia
40 tahun, dan resiko meningkat tajam seiring dengan bertambahnya usia, terutama
di atas 75 tahun. Alzheimer merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di
Amerika.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Terdapat gejala demensia
·
Onset bertahap, dengan deteriorasi lambat
·
Gangguan progresif pada fungsi kognitif bersamaan
dengan perubahan kepribadian dan hubungan interpersonal. Yaitu kehilangan ingatan, disorientasi,
penurunan kemampuan membuat pendapat, kemunduran ketrampilan sosial, dan
perubahan atau mendatarnya afek.
·
Simptom lain yang dapat mengikuti : agitasi,
keluyuran, halusinasi, delusi, agresif, insomnia, tidak mampu untuk
menyesuaikan dengan lingkungannya.
·
Perkembangan Alzheimer biasanya 5-10 than, dan
berakhir dengan kematian melalui perkembangan penyakit kompilasi seperti
pneumonia
(PPDGJ-III: F00; Mulyani,
1999)
Treatment
Sampai dengan
saat ini belum ada pengobatan atau treatment yang efektif untuk menyembuhkan
penyakit Alzheimer. Yang ada hanyalah
teratment pengobatan untuk mengontrol gejolak emosi dan perilaku-perilaku yang
tidak tepat, serta pemberian obat untuk mencegah semakin menurunnya kadar ACh
di otak.
Kemungkinan penyebab
penyakit Alzheimer
Meskipun sampai dengan saat ini belum ditemukan
pengobatan atau treatment yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan penyakit
Alzheimer, namun beberapa kemungkinan penyebab dapat diidentifikasi. Ada beberapa pendapat yang berusaha
menjelaskan tentang kemungkinan faktor penyebab Alzheimer, yaitu :
·
Pendapat terdahulu yang menyatakan bahwa faktor
penyebab Alzheimer adalah slow-acting virus.
Ada juga yang mengajukan dugaan karena kerusakan genetik atau karena
trauma otak.
·
Hasil penelitian lainnya mengemukakan adanya
ketidaseimbangan neurotransmitter di otak, terutama acetylchloline (Ach), yang
mungkin akibat dari rusaknya sel otak yang menghasilkan Ach.
·
Ketidakseimbangan metabolisme otak, yaitu
metabolisme glucose dan oksigen
·
Terganggunya peredaran darah di otak sihingga
menghambat suplai nutrisi penting ke otak, yaitu terutama glucose dan oksigen.
·
Transmisi genetik diduga sebagai salah satu
penyebabnya.
Bukti menunjukkan
bahwa pada penderita Alzheimer terdapat penurunan kada Ach di otak dan
aktivitas gelombang otak relatif lambat (dideteksi dengan EEG)
5.
Pick’s Disease
5 % dari kasus demensia disebabkan
oleh penyakit Pick. Penyakit ini berkembang
pesat pada usia 60 70, dan kondisi penderita akan semakin menurun setelah 70
tahun. Penyebab gangguan ini belum
diketahui pasti, tetapi ada dugaan karena adanya transmisi genetik. Kelurga daru penyakit Pick Disease, mempunyai
resiko 17% terkena penyakit pick pada usia sekita 75 tahun. Laki-laki memiliki probabilitas resiko lebih
tinggi terkena pick daripada perempuan.
Diagnosa dan gambaran umum
penderita
·
Adanya gejala demensia yang progresif
·
Adanya gangguan perilaku dan emosi, sehingga secara
sosial tidak terkendali, yaitu perilaku sosial yang kasar, euforia, emosi
tumpul, disinhibisi, dan apatis atau gelisah.
·
Manifestasi gangguan perilaku pada umumnya
mendahului gangguan daya ingat (PPDGJ-II:F02.0).
6.
Multi-infarct Dementia
Merupakan demensia yang disebabkan
oleh multipel sroke yang terjadi pada waktu yang berlainan (terjadi
berulang-ulang) atau bentuk kerusakan otak lainnya. Stroke yang terjadi secara
berulang ini dapat menyebabkan luasnya efek pada fungsi mental. Penyakit stroke ini terjadi karena adanya
gumpalan-gumpalan darah yang iasanya disebabkan karena adanya proses
pengapuran. Dapat juga karena adanya
proses penebalan dinding-dinding pembuluh darah otak, yang biasanya disebabkan
oleh kolesterol. Keadaan tersebut
menyebabkan terhambatnya suplai darah ke seluruh bagian otak, sehingga bagian
yang tidak terlairi darah akan terhenti fungsinya, dan timbul gangguan biasanya
pada fungsi motorik, fungsi bicara (speech), atau fungsi kognitifnya. Kematian bisa saja terjadi bila jika keadaan
semakin parah.
Multi-infarct
dementia mempunyai simptom yang sama dengan penyakit Alzheimer, yaitu adanya
gangguan daya ingat dan kemampuan bicara, gejolak emosi, ketidakmampuan
penderita untuk emnjalankan fungsi-fungsi keseharian. Gangguan pada fungsi-fungsi mental dan
kemampuannya tergantung pada area kerusakan yang mempunyai fungsi
tertentu. Ketidakmampuannya kognitif biasanya tidak merata, mungkin
terdapat hilangnya daya ingat, gangguan daya pikir, atau gejala neurologis
fokal. Namun daya tilik diri (insight)
dan daya nilai (judgement) secara relatif tetap baik (PPDGJ-III: F01).
Terjadinya onset
cenderung lebih lambat, biasanya setelah serangkaian episode iskemik minor yang
menimbulkan akumulasi dari infark pada parenkin otak (PPDGJ-III: F01.1).
VI. PENYAKIT PADA BASAL GANGLIA (Disease of The Basal Ganglia)
Basal ganglia adalah kumpulan sel-sel saraf (simpul
saraf) yang terletak di bawah korteks (subkortikal), yang mengontrol gerakan
motorik manusia. Penyakit yang termasuk
dalam penyakit basal ganglia :
1.
Penyakit Parkinson
Penyakit ini pertama kali dideteksi
oleh James Parkinson pada tahun 1818.
Faktor penyebab parkinson adalah terjadinya proses degerasi sel-sel
saraf dari basal ganglia, mungkin juga ada kerusakan pada bidang-bidang yang
menyebar pada korteks serebral (mulyani, 1999).
Kerusakan tersebut khususnya terjadi pada substansia negra (“black
substance”).
Dugaan penyebab
lainnya, rusaknya basal ganglia tersebut akibat dari penggunaan obat (7% dari
kasus Parkinson). Dugaan lainnya adalah
disebabkan oleh virus, keracunan (enviromental toxins), dan
arteriosclerosis. Namun sampai dengan
saat ini belum diketahui secara pasti penyebab penyakit Parkinson, terutama
penyebab terjadinya kerusakan pada basal
ganglia (Rathus & Nevid, 1991).
Diagnosa dan gambaran umum
penderita
a.
Gangguan parkinson biasanya bersifat progresif dan
menunjukkan gambaran yang parah, termasuk gangguan motorik yang bermacam-macam
dengan karakteristik :
·
tangan, kaki, atau kepala dapat bergetar (tremor)
tanpa dapat dicegah
·
Terjadi kekakuan otot-otot sehingga sulit melakukan
gerakan (arkinesia)
·
Aktivitas motorik menjadi lamban (bradykinesia)
·
Tidak mengontrol gerakan tubuh, misal, sulit untuk
memulai berjalan dan juga sulit untuk berhenti
·
Kehilngan koordinasi, yaitu tidak dapat
mengkoordinasikan dua gerakan pada waktu yang sama
·
Biasanya
terjadi poerubahan postur tubuh yaitu badan condong ke depan
·
Mukanya tidak berekspresi, simptom akibat terjadinya
degenerasi sel-sel saraf yang mengatur otot-otot wajah.
·
Bicaranya terganggu dan kehilangan ritme normal
b.
Terjadi gangguan kognitif, misal, sulit mengucapkan
kata (gangguan bahasa).
c.
Perhatian (attention), konsentrasi, dan daya ingat
tetap baik pada tahap awal penyakit ini.
Tapi pada tahap lanjut terjadi penurunan.
d.
Akibat gangguan fisik yang parahb ini, seringkali
membuat penderita mengalami penurunan harga diri dan menjadi depresi.
e.
Demensia dapat terjadi pada penderita Parkinson yang
sudah parah (PPDGJ-III:F02.3)
(Mulyani, 1999: PPDGJ-III,
1999: Rathus & Nevid, 1991)
Treatment
Pada penderita Parkinson ditemukan adanya penurunan
jumlah neurotransmitter dopamine. Oleh
karena itu, defisiensi dopamine pada otak dijadikan dasar untuk
treatmentnya. Pemberian obat L-dopa
(pertama kali digunakan pada tahun 1970-an) dapat memberikan harapan pada
penderita, yaitu dapat meningkatkan kadar dopamine dalam otak. *0% penderita menunjukkan kemajuan yang
berarti pada pengurangan simptom tremor dan motoriknya, setelah dilakukan
terapi L-dopa. L-dopa terbukti dapat
mengurangi simptom-simptom pada penyakitParkinson dan menghambat perkembangan
penyakitnya. Namun, L-dopa tidak berarti
dapat menyembuhkan penyakit ini.
Sebagian besar penderita yang melakukan terapi L-dopa, tetap menunjukkan
kemunduran secara bertahap.
2.
Penyakit Huntington
Penyakit ini pertama kali
diidentifikasikan oleh George Huntington pada tahun 1872. Penyakit Huntington disebabkan adanya
kerusakan yang meluas pada subkorteks otak, dan bagian-bagian pada korteks
frontal, yang mengontrol gerakan motorik korpus kolasum (Mulyani, 1999). Kerusakan progresif pada subkorteks yang
mempengaruhi sel-sel saraf yang memproduksi Ach dan GABA (Rathus &Nevid,
1991).
Penyakit
Huntington dapat terjadi pada anak-anak, tapi umumnya terjadi pada orang yang
berumur 30-50 tahun. Penyakit ini
terjadi melalui transmisi genetik (diduga terjadi kerusakan pada kromosom no.
4). Seseorang yang mempunyai orang tua
yang menderita penyakit Huntington, akan memiliki probabilitas resiko sebesar
50%. Penyakit ini lebih banyak terjadi
pada perempuan daripada laki-laki.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
a.
Ditandai adanya gangguan gerakan choreiform (berasal
dari bahasa Yunani choreia yang berarti “menari”) yang tidak teratur dan kronis
yaitu melilit-lilit dan kejang-kejang tanpa koordinasi dari kedua lengan dan kaki. Karena itu penyakit ini disebut juga
Huntington’s Chorea. Adanya gerakan
koreoform yang involunter, terutama pada wajah, tangan, dan bahu atau cara
berjalan yang khas, yang merupakan gejala awal.
Gejala ini biasanya mendahului gejala demensia (PPDGJ-III:F02.2)
b.
Gejala demensia ditandai dengan gangguan fungsi
lobus frontalis pada tahap dini, dengan daya ingat relatif masih baik, sampai
saat selanjutnya (PPDGJ-III:F02.2)
c.
Gangguan ini juga menyebabkan gangguan kognitif dan
kepribadian. Gangguan kognitif:
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang memerlukan kecepatan atau
jalan pikiran, dan yang membutuhkan persepsi dan respon yang kompleks. Gangguan kepribadian: mudah marah, cemas,
umumnya tidak dapat diprediksikan; mengalami gangguan dalam membuatpendapat;
menjadi agresif atau impulsif secara seksual.
Karena gangguan ini, penderita menjadi depresif dan apatis
d.
Penyakit Huntington yang kronis dan progresif selalu
diakhiri dengan psikosa (kegilaan) dan kematian.
(Mulyani, 1999; PPDGJ-III,
1999; Rathus & Nevid, 1991; Kartono, 1989)
Treatment
Sebab-sebab penyakit ini belum diketahui dengan
jelas. Sejauh ini diduga karena adanya
faktor keturunan. Dan cara penyembuhan
yang efektif jga belum diketemukan. Oleh
karena itu, sikap pencegahan lebih bermanfaat, yaitu bila ada seorang anggota
keluarga yang menderita penyakit ini, lebih baik tidak menikah atau tidak
menurunkan anak.
VII. INFEKSI OTAK
Terjadinya infeksi atau peradangan pada otak dapat
menimbulkan kerusakan pada sel-sel saraf otak, dan dapat mempengaruhi keadaan
fisik dan mental penderita. Beberapa
tipe utama infeksi otak adalah encephalitis, meningitis, neurosyphillis dan
AIDS dementia complex.
1.
Encephalitis
Encephalitis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh
adanya peradangan pada jaringan-jaringan otak yang disebabkan oleh virus yang
dibawa oleh serangga seperti nyamuk, kutu, dan serangga lainnya.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
a.
Penderita mengalami kelesuan dan mengantuk yang
diikuti oleh periode iritabiltas dan eksitabilitas.
b.
Dapat terjadi delirium selama fase akut
c.
Terjadi perubahan perilaku emosional yang ditandai
oleh labilitas emosional, kegembiraan yang dangkal dan tidak beralasan
(euforia), mudah berubah menjadi iritabilitas (cetusan amarah) dan agresi yang
sejenak. Pada beberapa keadaan, apati
dapat merupakan gambaran yang menonjol.
(PPDGJ-III:07.0)
2.
Meningitis
Meningitis merupakan infeksi atau
peradangan akut yang terjadi pada sistem
syaraf pusat, yaitu peradangan pada meninges atau membran (selaput luar otak)
yang melapisi urat syaraf tulang belakang dan otak.
Penyakit ini disebabkan oleh mikroba seperti virus,
bakteri, dan protozoa. Frekuensi
terbanyak disebabkan oleh bakteri meningococcus. Jika pada terapi awal dilakukan dengan obat
antibiotik, kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan. Tapi jika tidak dilakukan terapi apapun,
dapat terjadi koma dan akhirnya kematian.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Penderita mengalami panas tinggi, kejang-kejang,
sakit kepala yang hebat, rasa sakit dan kekakuan otot-otot, muntah-muntah, rasa
kantuk, gangguan konsentrasi, iritabilitas, dan gangguan daya ingat.
·
Retardasi mental dapat terjadi
·
Karena penyakit meningitis sangat menular, maka
sebaiknya penderita dikarantinakan untuk mencegah terjadinya penularan.
3.
Neurosyphillis
Sipilis (syphillis) adalah penyakit
menular seksual yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Sipilis ini dapat ditularkan melalui kontak
genital, oral, atau anal dengan penderita sipilis. Dapat juga ditularkan oleh ibu kepada bayi
yang dikandungnya melalui plasenta.
Jika tidak
dilakukan treatment pada penyakit sipilis, maka penyakit ini akan mengalami
perkembangan. Penyakit ini bermula dari
organ tempat masuknya bibit penyakit (chancre), sampai akhirnya berkembang dan
bakteri sipilis mulai menyerangbagian tubuh yang lain, termasuk sel-sel saraf
tulang belakang yang mengontrol respon motorik.
Kadang dapat menyerang jaringan saraf otak.
Makin meluasnya
infeksi dimana otak diserang secara langsung sehingga terjadi general paresis
yaitu suatu bentuk kemunduran mental.
Dignosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Terjadi simptom fisik seperti tremor, berbicara
tidak jelas (slurred speech), gangguan koordinasi motorik, dan akhirnya dapat
terjadi paralisis (kelumpuhan).
·
Simptom psikologis berupa terjadinya perubahan
perasan, emosinya datar atau tidak ada respon emosi pada hal yang menyenangkan
ataupun menyedihkan, dan iritabilitas (cetusan amarah): delusi: terjadi
perubahan kebiasaan seperti menjadi tergantung kepada orang lain dalam
menjalankan fungsi keseharian
(memelihara dan merawat diri sendiri); terjadi kemunduran intelektual secara
progresif, termasuk gangguan daya ingat yang berat, gangguan daya nilai dan
pemahaman. Kadangkala terjadi euforia,
dan beberpa kasus terjadi depresi dan lethargic (keadaan kesadaran yang menurun
dan seperti tertidur lelap). Akhirnya
penderita menjadi apatis.
·
Dalam kondisi parah, kematian dapat saja terjadi
(Rathus &
Nevuid, 1991)
Treatment
Deteksi lanjut dan terapi dengan
pemberian obat antibiotik dapat menurunkan keadaan general paresis
tersebut. Pemberian treatment tergantung
pada tahapan atau keparahan infeksinya.
Antibiotik dapat mencegah atau membendung perkembangan infeksi dan
mencegah kerusakan lebih lanjut.
Pemberian obat tersebutf tidak dapat memulihkan fungsi-fungsi yang
rusak.
4.
AIDS Dementia Complex
Virus AIDS, yaitu treponema
pallidum, yang menyerang sistem saraf pusat dapat menimbulkan penyakit AIDS
dementia complex (ADC).
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Terjadi kemunduran mental dan fungsi motorik secara
progresif. Lebih dari separuh penderita
AIDS akhirnya akan mengalami gangguan mental atau demensia, yang meliputi
gangguan kemampuan bahasa (language-skills), daya ingat, dan kemampuan
berpikir.
·
Penderita AIDS yang menunjukkan gejala ADC cenderung
mengalami penurunan kondisi dan terjadinya kematian lebih cepat, dari pada penderita AIDS tanpa ADC
·
Tanda awal terjadinya ADC adalah adanya ekspresi
wajah depresi; gangguan konsentrasi; apatis; menarik diri dari lingkungannya;
mengalami gangguan daya ingat jangka pendek; ketiadaan respon emosi
·
Tanda neurologis awal yaitu mengalami problem dalam berjalan,
koordinasi otot-otot (ataxia), dan refleknya
·
Penurunan fungsi kognitif secara cepat dalam waktu
dua bulan
·
Demensia akan makin parah, seoiring dengan
perkembangan penyakit ini, dimana terjadi delusi, diorientasi, gangguan daya
ingat dan daya pikir
·
Penderita yang menyadari keadaan dirinya, biasanya
menjadi depresi
·
Pada akhirnya penderita dapat mengalami koma dan
meninggal.
(Rathus & Nevid, 1991)
VIII. TRAUMA OTAK
Trauma pada otak biasanya karena adanya luka pada otak
yang disebabkan oleh benturan keras atau terputusnya jaringan otak, akibat dari
kecelakaan atau penganiayaan. Beberapa
tipe trauma otak meliputi :
1.
Concussion
Concussion ini
banyak dialami oleh pemain sepak bola dan petinju, karena profesi mereka
memiliki resiko tinggi untuk mengalami trauma otak.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Hilangnya kesadaran beberapa saat (beberapa detik
atau menit) karena pukulan atau benturan pada kepala. Dan dapat pulih dengan baik tanpa ada efek
yang membekas.
·
Dalam kasus berat, dapat terjadi delirium dan
agitasi (kegelisahan)
·
Dapat pula terjadi amnesia
·
Dalam beberapa kasus, sindrom post-traumatic dapat
berlangsung selama beberapa minggu atau bulan seiring dengan lukanya.
·
Karakteristik sindrom ini yaitu terjadi sakit
kepala, anxiety (kecemasan), insomnia, depresi, dan penurunan daya ingat. Kerusakan permanen pada otak jarang terjadi.
(Rathus & Nevid, 1991)
2.
Contusion
Contusion ini merupakan trauma otak
yang lebih serius, yang dikarenakan benturan atau pukulan pada tengkorak kepala
cukup keras sehingga menyebabkan jaringan lunak otak mengalami memar.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Terjadi koma akibat adanya trauma tersebut, yang
dapat berlangsung selama beberapa jam atau bulan
·
Operasi pada kepala dilakukan apabila terjadi
pendarahan pada otak
·
Setelah sadar, penderita mungkin akan mengalami
problem pada fungsi kgnitif dan bicara.
Biasanya fungsi tersebut akan pulih kembali kira-kira setelah satu
minggu
·
Pengulangan kejadian concussion dan contusion dapat
menyebabkan kerusakan otak, gangguan kognitif permanen, dan ketidakstabilan
emosu.
·
Simptom kognitif dan fisik meliputi : bicara tidak
jelas (slured specch); cara berjalan yang gemetar dan tidak tegap; mengalami
problem emosi; kemunduran daya ingat; kepeningan dan tremor.
(Rathus & Nevid, 1991)
3.
Laceration
Trauma otak yang paling parah
adalah laceration yang terjadi karena adanya luka yang disebabkan oleh benda
asing yang menembus tengkorak kepala dan merusak jaringan otak. Tingkat dari kerusakan pada otak ditentukan oleh
lokasi dan luasnya luka pada otak.
Laceration yang berat dapat
menimbulkan kematian mendadak. Penderita
yang dapat bertahan hidup, akan menglami kerusakan otak permanen, yaitu
gangguan mayor pada fungsi mental dan fisik.
Kadang, penderita hanya mengalami gangguan minor atau tidak ada efek
permanen (Rathus & Nevid, 1991)
IX. GANGGUAN CEREBROVASCULAR
Otak sangat tergantung pada sirkulasi darah pada otak
yang membawa oksigen dan glucose (proses metabolisme otak). Gangguan pembuluh darah otak terjadi bila
suplai darah ke otak terputus karena adanya gumpalan pada pembuluh darah
otak. Gangguan ini disebut juga
cerebrovascular accident (CVA) atau stroke.
Pecahnya pembuluh darah menyebabkan kebocoran darah yang dapat merusak
jaringan sensitif otak.
1.
Stroke
Pada stroke dengan tipe cerebral thrombosis,
gumpalan bekuan darah yang berada pada pembuluh darah otak dapat menimbulkan
penyempitan bahkan dapat terjadi penutupan (occlusion) sirkulasi darah di otak.
Tipe lainnya
adalah artherosclerosis, yaitu terjadinya penyempitan pembuluh darah otak karena
penebalan pembuluh darah yang disebabkan oleh timbunan lemak pada
dinding-dinding pembuluh darah otak.
Stroke dengan
tipe cerebral embolism terjadi akibat adanya bekuan darah atau sumbat lainnya
yang dibawa mengalir oleh darah sampai ke pembuluh darah yang kecil )kapiler)
dan mengendap sehingga menyumbat aliran darah pada otak. Sumbat tersebut antara lain gelembung udara
(air bubble) atau butiran lemak (fatty globule).
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Penderita dapat mengalami paralisis atau hilangnya
sensasi pada satu sisi tubuh
·
Terjadi afasia (hilangnya kemampuan bahasa)
·
Gangguan daya ingat
·
Beberapa penderita tidak dapt berjalan
·
Kondisi tersebut membuat penderita menjadi depresi
dan mudah marah
2.
Pendarahan Otak (Cerebral Hemorrhage)
Pendarahan pada
otak tersebut disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah pada otak sehingga
terjadi kebocoran di dalam jaringan otak dan merusak jaringan tersebut.
Rentannya pembuluh darah tersebut terhadap resiko pecah, mungkin karena
faktor bawaan, atau karena hipertensi yang semakin lama dapat memperlemah
dinding-dinding pembuluh darah.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Terdapat pembuluh darah yang pecah di otak
·
Hilangnya kesadaran dengan tiba-tiba dan dapat
menjadi koma yang disertai kejang-kejang
·
Meluasnya pendarahan dapat menyebabkan kematian
dalam waktu satu atu dua minggu
·
Simptom-simptom yang dapat terjadi: gangguan
motorik, afasia: gangguan daya ingat dan daya nilai
·
Efek dari pendarahan otak tergantung pada besarnya
pembuluh yang pecah dan area pada otak
X. TUMOR OTAK
Tumor jinak (benign) dan tumor ganas (malignant) pada
otak dapat mempengaruhi sindrom mental organik yang serius. Tumor ganas atau kanker otak yang bermula
pada otak disebut faktor penyebab primer.
Sedangkan kanker otak yang terjadi akibat penyebaran kanker dari bagian
tubuh lainnya disebut faktor penyebab sekunder.
Treatment pada tumor otak dapat dilakukan dengan pengangkatan tumor melalui
operasi. Sedangkan pada kanker dapat
dilakukan treatment radiasi atau kemoterapi.
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Buktu adanya tumor yang dapat dideteksi dengan CAT
scan
·
Gangguan daya ingat dan sakit kepala yang
berulang-ulang, merupakan tanda awal
·
Berkembangnya tumor dapat memperburuk
simptom-simtomnya, yaitu terjadi sakit kepala yang hebat; terjadi disorientasi
dan gangguan daya ingat; muntah-muntah; gangguan pandangan; gangguan koordinasi
motorik; dan berapa kasus terjadi halusinasi.
·
Simptom-simptom tumor otak tergantung pada ukuran
tumor dan lokasinya
XI. DEFISIENSI NUTRISI
Ketidakseimbangan nutrisi atau defisiensi nutrisi juga
dapat mempengaruhi fungsi mental
1.
Pellagra
Defisiensi
vitamin B atau niacin dapat menyebabkan timbulnya gangguan pellagra
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Simptom fisik : terjadi diare, kelainan pada kulit
·
Simptom psikologis : kecemasan (anxiety), depresi,
gangguan memory jangka pendek, gangguan konsentrasi
·
Jika tidak dilakukan treatment, maka dapat terjadi
halusinasi dan delirium, serta dapat terjadi kematian.
Treatment
Treatment dengan diet yang kaya vitamin B (niacin) dan
vitamin penting lainnya, dianggap sangat efektif.
2.
Beriberi
Beriberi
merupakan gangguan yang disebabkan adanya defisiensi thiamine
Diagnosa dan Gambaran Umum
Penderita
·
Adanya gangguan saraf : kesulitan dalam konsentrasi
dan daya ingat
·
Terjadi iritabilitas, letargi/kelesuan yang ekstrim,
ketidaan nafsu makan, insomnia, adanya perasaan letih dan tidak bergairah.
XII.
GANGGUAN ENDOKRIN
Tinggi atau rendahnya aktivitas
kelenjar endokrin dapat mempengaruhi aspek psikologis, bila hormon-hormon
tertentu terbawa oleh darah dan mengalir ke seluruh tubuh, termasuk pada
jaringan otak.
1.
Gangguan pada kelenjar thyroid
Kelenjar tyroid menghasilkan
thyroxin yang berfungsi mengatur metabolisme tubuh. Hyperthyroidism (disebut juga Grave’s
disease) disebabkan oleh kelebihan produksi thyroxin, yang dapat mempercepat
metabolisme tubuh. Sehingga timbul
gejala”bug eyes” (mata yang membelalak), menurunnya berat badan (weight
loss). Efek psikologis yang terjadi
adalah excitability, insomnia, anxietas, kegelisahan (restlessness). Dapat terjadi halusinasi atau delusi.
Hypothyroidism yang disebabkan oleh rendahnya kadar
thyroxin, yang menyebabkan cretinism pada masa anak-anak dini, yang ditandai
dengan hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya sehingga penderita
menjadi kerdil dan kecerdasannya menjadi terbelakang (retardasi mental). Pada masa dewasa (disebut juga myxedema)
terjadi metabolisme yang lamban dan dihubungkan dengan perubahan fisik seperi
kulit kering, bertambahnya berat badan.
Perubahan psikologis yang terjadi adalah keletihan dan lembam; gangguan
konsentrasi dan daya ingat; depresi.
Treatment terhadap gangguan ini adalah dengan pemberian garam yodium
untuk mencegah defisiensi thyroid.
2.
Gangguan pada kelenjar Adrenallin
Kelenjar adrenalin terletak di
bawah ginjal, yang terdiri dari lapisan luar (cortex) dan inti bagian dalam
(medulla). Korteks adrenal memproduksi
steroid, yang dapat mempertinggidaya tahan (resistance) terhadap stress dan
mengatur metabolisme karbohidrat.
Aktivitas
kortikal yang rendah dapat menimbulkan Addison’s disease, yang ditandai dengan
adanya penurunanberat badan, tekanan darah rendah, keletihan, iritabilitas,
ketiadaan motivasi, penarikan diri dari lingkungan (social withdrawal) dan
depresi. Sedangkan aktivitas kortikal
yang tinggi dapat menimbulkan Cushing’s syndrome, yang memiliki simptom fisik
seperti terjadinya penambahan berat badan, keletihan, kelemahan otot-otot. Simptom psikologis yang terjadi adalah
timbulnya keadaan perasaan yang negatif, yang dapat terjadi fluktuasi antara
depresi dan kecemasan.
XIII.
EPILEPSI
Penyakit epilepsi atau ayan
merupakan penyakit pada kesadaran, karena terdapat gangguan pada otak. Sebab-sebab epilepsi yang jelas belum
diketahui. Dari segi biologis dijelaskan
bahwa adanya predisposisi dan faktor keturunan, sehingga terjadi gangguan pada
otak, terutama pada kulit otak (cortex).
Hilangnya
kesadaran disebabkan karena instabilitas dari neuron-neuron korteks. Sepertiga dari jumlah penderita epilepsi
mempunyai riwayat keluargaberpenyakit epilepsi.
Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak berumum 6-24 bulan. Jika serangan epilepsi sudah dialami sebelum umum
7 tahun, maka akan mengakibatkan
kelemahan mental, dan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya juga mengalami hambatan.
Sebelum
terjadinya serangan epilepsi, terdapat gejala aura, yaitu penderita merasa
pusing, merasa tidak enak pada perut dan punggungnya dalam beberapa detik. Penderita menjadi bingung dan merasakan
getaran-getaran dingin, sehingga dia tidak dapat mempersiapkan diri terhadap
serangan kekdjangan. Lalu penderita mengalami
aura-stupor, yaitu rasa seperti terbius dan tidak berdaya, serta merasakan
kelumpuhan atau kekakuan pada sebagian anggota badannya.
Ada 3 tipe
epilepsi menurut serangan kekejangannya, yaitu :
1.
Grand mal (tonic-clonic epilepsy)
Serangan ini merupakan yang paling
berat. Sewaktu terjadi serangan
kesadaran hilang dan penderita mengalami kejang-kejang. Nafasnya terhenti, mulutnya bergetar, dan
rahngnya terkatup kuat. Lengan dan kaki
terlentang kaku dan kejang-kejang, serta tangannya mengepal. Kemudian penderita terjatuh. Mungkin juga penderita merasa sakit, lalu
menangis dan mengerang-erang, kemudian jatuh pingsan, tidak ingat sesuatupun
juga. Mukanya menjadi kelam, lalu jadi
pucat. Saat serangan terjadi, penderita
dapat kehilangan kontrol diri, sehingga dapat kencing atau buang air besar yang
tak terkendali, atau menggigit lidahnya.
Dengan masuknya
oksigen dalam paruparu, kejang dan kekakuannya menurun. Tangan dan kaki tetap bergerak-gerak tapi
mulutnya berbuih. Kejadian ini
berlangsung selama kira-kira 1 menit.
Setelah sadar, penderita mengalami kebingungan dan keletihan, dan dapat
tertidur. Saat terjaga, penderita
mungkin tidak ingat kejadian saat terjadi serangan, meski lidahnya sakit atau
mengompol.
Penderita yang
mengalami kekejangan tesebut memiliki resiko mendapatkan kecelakaan,seperti
melikai diri sendiri, menggigit lidahnya hingga putus, atau tenggelam, terluka,
atau terbakar.
2.
Petit mal epilepsy (small illness)
Biasanya penderita tidak
kehilangan kesadarannya. Ia berhenti
sebentar, memandang kosong ke depan atau ke lantai, lalu berjalan kembali. Seringkali terdapat gerakan-gerakan pad
kening dan alis, atu gerak ritmis pada kelopak mata, dekat telinga, bibir dan
hidung. Barang yang sedang dipegannya,
dapat terjatuh.
Petit mal ini
banyak dialami oleh perempuan, terutama mereka yang sedang mengalami periode
sekitar pubertas.
3.
Jacksonism (Jacksonian epilepsy)
Srangan seperti pada grand
mal. Hanya sersngan tersebut bermula
pada sebagian badan dengan kekejangan otot atau ganguan indera, seperti merasa
bingung, tidak dapat mendengar, tidak dapat merasakan apa-apa, merasa dingin
atau panas, dan lain-lain.
Gangguan otot dan
indra tersebut kemudian meluas ke seluruh
badan. Pada awal serangan,
penderita seringkali masih sadar.
Kesaran hilang, saat serangan tersebut meluas, penderita pingsan dengan
disertai kejang-kejang. Jika kekejangan
tersebut jarang terjadinya, maka fungsi inteleknya tidak terganggu. Tapi jika kekejangan sering menyerang, dapat
melemahkan fungsi intelek dan fungsi kejiwaannya.
Secar psikologis,
kekejangan merupakan mekanisme untuk meredusir ketegangan. Pada orang yang mempunyai predisposisi
herediter, ketegangan dan konflik psikis dapat menyebabkan timbulnya epilepsi
Jacksonisme pada dirinya.
Treatment
Treatment fisik :
·
Dengan diet tertentu dan pemberian obat-obatan
·
Dapat juga diberikan elektroshock, yaitu
kejutan-kejutan listrik
Treatment
psikologis
·
Sebaiknya dilakukan psikoterapi untuk menghilangkan
ketakutan dan kecemasan, rasa malu dan terhina, hasrat untuk menarik diri atau
mengasingkan diri (withdrawal), rasa penolakan dan konflik bathin lainnya.
·
Penderita dijaga perasaannya dari konflik-konflik
batin supaya tidak terjadi kambuhnya serangan epilaepsi.
·
Memperlakukan atau menerima penderita seperti
layaknya orang normal (meskipun harus dijaga agar penyakitnya tidak kambuh)
karena penderita epilepsi biasanya masih dapat menjalankan keseharian, seperti belajar, bekerja, atau
menikah (meski ini tidak disarankan).
KESIMPULAN
Dengan memahami gangguan mental
organik, kita dapat mengetahui bahwa faktor fisik damn mental/psikis tidak
dapat dipisahkan. Adanya penyakit atau
gangguan pada fisik manusia ternyata dapat menimbulkan efek psikologis, mulai
dari yang ringan sampai yang berat.
Gangguan mental organik merupakan
gangguan pada mental yang disebabkan oleh adanya gangguan atau penyakit pada
fisik. Umumnya disebabkan oleh adanya
gangguan pada otak serta fungsi jaringan-jaringan otak. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tau
rusaknya fungsi-fungsi kognitif, yaitu antara lain daya ingat, daya pikir
(intelektual), daya belajar 9learning), daya nilai (juggment), daya konsentrasi
dan perhatian; juga dapat mempengaruhibemosi dan motivasinya. Beratnya gangguan dan kekalutan mental
tersebut tergantung pada parahnya
kerusakan organis otak.
Gangguan mental organik ini merupakan
efek sekunder dari ganguan yang sebenarnya.
Dengan kata lain, efek gangguan pada mental menyertai atau merupakan
akibat adanya gangguan utama pada fisiknya (primer). Gangguan pada mental ada yang dapat sembuh
dan ada yang tidak. Terutama pada kerusakan otak yang permanen, cenderung
meninggalkan efek mental yang permanen pula.
Treatment yang baikadalah yang sesuai
dengan kebutuhan penyembuhan atau untuk emngurangi simptom-simptom yang
terjadi. Disamping terapi fisik yang
biasanya dengan obat-obatan, terapi psikologis sangat penting untuk mendukung
kesembuhan atau mengurangi efek mental pada penderita. Biasanya, penderita akan mengalami depresi
mental setelah menyadari adanya kekurangan atau gangguan yang terjadi pada
dirinya, yang justru akan memperburuk keadaannya. Disamping psikoterapi, penerimaan lingkungan
sosial terhadap keadaan penderita, dapat mendukung keberhasilan psikoterapi
tersebut.
Daftar Pustaka
Choca,
James, 1980, Manual for Clinical Psychology Practicums, New York:
Brunner/Mazel.Inc.
Duke,
Marshall P., dan Nowicki, Stephen, Jr., 1986, Abnormal Psychology, New York:
CBS College Publishing
Kartono,
1989, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung: Mandar Maju
Maslim,
Rusdi, 1999, Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan ringkas dari PPDGJ-III, Jakarta
Mulyani,
Sri Martaniah, 1999, Psikologi Abnormal, Yogyakarta
Ramali,
A., dan Pamoentjak, 1987. Kamus
Kedokteran, Jakarta: Djambatan
Rathus,
A. Spencer, dan Nevid, S. Jeffrey, 1991, Abnormal Psychologi, New
Jersey.Euglewood Cliffs.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar