BAB I
PENDAHULUAN
Masa remaja (adolescence) yaitu masa topan badai (strum
and drang); yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh pertentangan
nilai-nilai. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak
termasuk golongan anak maupun golongan orang dewasa atau orang tua. Remaja ada di antara golongan anak dan
golongan orang dewasa. Di dalam pikiran dan jasmaninya, remaja mewarnai dan
mengeksplorasi dunianya dengan penuh keberanian. Remaja mulai berjerawat dan
kikuk, mereka juga mulai mengenal seks. Mereka berusaha sekuat tenaga memainkan
permainan – permainan orang dewasa (adult games) tetapi mereka dibatasi oleh
komunitas teman-teman sebaya mereka sendiri. Remaja memiliki beberapa kebutuhan
yang mendukung dalam perkembangannya, yaitu :
1. Kebutuhan akan pengendalian diri
2. Kebutuhan akan kebebasan
3. Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4. Kebutuhan akan penerimaan sosial
5. Kebutuhan akan penyesuaian diri
6. Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai
sosial
Setiap perkembangan mempunyai
pola perilaku yang memiliki karakteristik. Menurut Havighurst, tugas perkembangan
adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari
kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan
membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas berikutnya. Akan tetapi
jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan mengalami kesulitan dalam
menghadapi tugas-tugas berikutnya (Psikologi Perkembangan, Elizabeth B.
Hurlock, h : 9-10). Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut
Havighurst, yaitu:
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih
matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan
2. Mencapai peran sosial laki-laki dan
perempuan
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan
tubuhnya secara efektif
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial
yang bertanggung jawab
5. Mencapai kemandirian emosional dari orang
tua dan orang-orang dewasa lainnya
6. Mempersiapkan karier ekonomi
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis
sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi
Salah satu tugas perkembangan
yang harus dicapai pada masa remaja adalah mampu menjalin hubungan yang dekat,
baik dengan sesama jenis ataupun dengan lawan jenis. Karakteristik dari
hubungan dekat yang harus diperhatikan adalah daya tarik fisik. Dalam
menentukan sahabat, remaja lebih cenderung untuk memilih sahabat yang lebih
memiliki kesamaan dari pada hal-hal yang tidak sama, hal yang sama juga berlaku
pada proses kencan pada remaja.
Kenakalan atau perilaku
menyimpang pada remaja mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai
dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran hingga
tindakan-tindakan kriminal (Live Span Development Jilid II, John W. Santrock, h
: 22). Ada beberapa perilaku menyimpang pada remaja, yaitu :
1. Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa
menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
2. Kecanduan akan narkoba yang menyebakan
kematian dan AIDS.
3. Kecanduan alkohol / minuman keras.
4. Tawuran.
5. Sering berkunjung ke diskotik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
menyimpang pada remaja :
1. Kelalaian orangtua dalam mendidik anak
(memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama).
2. Sikap perilaku orangtua yang buruk
terhadap anak.
3. Kehidupan ekonomi keluarga yang morat
marit (miskin/fakir).
4. Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan
terlarang secara bebas.
5. Kehidupan moralitas masyarakat yang
bobrok.
6. Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan
porno.
7. Perselisihan atau konflik orangtua (antar
anggota keluarga).
8. Perceraian orangtua.
9. Penjualan alat-alat kontrasepsi yang
kurang terkontrol.
10. Hidup menganggur.
11. Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.
12. Pergaulan negatif (teman bergaul yang
sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nilai-nilai moral).
Dalam menjalani kehidupan
sehari-hari, remaja akan menghadapi bermacam-macam konflik kehidupan. Konflik-konflik
tersebut dapat muncul ketika remaja berinteraksi dengan teman sebaya mereka,
dengan keluarga mereka atau pun dengan lingkungan sekitar mereka. Dan beberapa
konflik yang dialami remaja tersebut adalah :
1. Konflik antara kebutuhan untuk
mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka
2. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan
dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
3. Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan
agama serta nilai sosial.
4. Konflik antara prinsip dan nilai-nilai
yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang
dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Konflik menghadapi masa depan.
Banyak remaja putra dan putri
saling mempengaruhi secara sosial melalui teman sebaya yang dimilikinya baik dalam
kelompok formal maupun informal, namun melalui kencan kontak yang serius antara
dua orang yang berlainan jenis kelamin muncul (Dowdy & Horward, 1993;
Feiring, 1994, 95; Levesque, 1993). Bagi remaja laki-laki, banyak masa-masa
yang sulit dihabiskan dengan sibuk memikirkan dan khawatir dengan hal-hal
seperti, ketika mereka harus menghubungi seorang gadis dan mengajaknya keluar
atau tidak.
Pengalaman romantis pada masa
remaja dipercaya memainkan peran yang penting dalam perkembangan identitas dan
keakraban (Erikson,1968). Kencan dimasa remaja membantu individu dalam
membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa.
Pada suatu penelitian, remaja yang terlibat dalam satu hubungan romantis
melaporkan pengucilan sosial yang lebih sedikit dan rasa kesepian yang rendah
daripada teman mereka yang tidak terlibat dalam satu hubungan romantis (Connoly
& Johnson, 1993).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan
manusia, menhubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja
(adolescence) yaitu masa topan badai (strum und drang) ; yang mencerminkan
kebudayaan modern yang penuh pertentangan nilai-nilai. Remaja cenderung banyak
menghabiskan waktu bersama teman sebayanya, sehingga tingkah laku dan
nilai-nilai yang dipegang banyak dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.
Remaja masa kini menghadapi tuntutan dan harapan, demikian juga bahaya dan
godaan, yang tampak lebih banyak dan kompleks daripada yang dihadapi remaja
masa lalu (Feldman dan Elliot, 1990 ; Hamburg, 1993 ; Hechinger, 1992).
Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada
masa remaja adalah mampu menjalin hubungan yang dekat, baik dengan sesama jenis
ataupun dengan lawan jenis. Karakteristik
dari hubungan dekat yang harus diperhatikan adalah daya tarik fisik. Dalam
menentukan sahabat, remaja lebih cenderung untuk memilih sahabat yang lebih
memiliki kesamaan dari pada hal-hal yang tidak sama, hal yang sama juga berlaku
pada proses kencan pada remaja. Dalam beberapa kasus khusus dan pada sejumlah
kasus dengan karakteristik yang berbeda, ketertarikan antara dua hal yang
berbeda terjadi
A. Dating / Kencan
Pacaran
diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar
saling menyukai antar lawan jenis. Apabila kita lihat sepintas dari definisi di
atas dapat disimpulkan bahwa pacaran merupakan suatu yang wajar dilakukan di
kalangan remaja.
Remaja
perempuan memiliki keinginan yang lebih kuat untuk penjajakan keintiman dan
kepribadian dalam berkencan daripada remaja laki-laki (Duck, 1975). Berkencan bagi remaja adalah suatu konteks
dimana harapan-harapan peran yang berkaitan dengan gender meningkat (Life Span
Development, J. W. Santrock, h : 48). Kencan merupakan bentuk rekreasi, sebagai
sumber status sosial dan keberhasilan, sebgai bagian dari proses sosialisasi,
melibatkan proses belajar tentang keakraban, menyediakan situasi untuk kontak
seksual, menyediakan kebersamaan, memberikan sumbangan untuk perkembangan
identitas dan menjadi sarana untuk memilih dan menyeleksi pasangan
(Adolescence, John W. Santrock, hal : 245). Kencan (dalam kamus berbahasa
Indonesia) adalah janji untuk saling bertemu(antara teman, kekasih), berkencan
adalah mengadakan janji untuk saling bertemu.
B. Fungsi dan Alasan Kencan
Tujuan
dasar dari kencan sendiri sebenarnya adalah penyeleksian dan pemilihan pasangan
yang tepat. Sampai saat ini terdapat 8 fungsi dari kencan (Padgham dan
Blyth,1991; Paul dan White, 1990 ; Dian dan Brooks, 1987 ; Skipper dan Nass,
1966) :
1. Sebagai bentuk rekreasi atau sumber
kesenangan
Remaja yang
berkencan terlihat sangat menikmatinya dan melihat kencan sebagai sumber
kesenangan dan sumber rekreasi.
2.
Sebagai sumber dari status dan
keberhasilan.
Maksudnya disini
adalah, kencan merupakan bagian dari proses perbandingan sosial mengenai status
seseorang yang menjadi teman kencannya, mengenai orang seperti apakah yang
dikencani di mata lingkungan.
3.
Sebagai proses sosialisasi.
Maksudnya disini
adalah bahwa kencan merupakan salah satu jalan untuk dapat belajar mengenali
sikap dan tingkah laku yang baik dalam lingkungan sosial.
4.
Kencan meliputi proses belajar
tentang keakraban dan merupakan sebuah kesempatan untuk menciptakan hubungan
yang unik dan berarti dengan seseorang dari lain jenis.
5. Kencan dapat menjadi sarana untuk
eksperimen dan penggalian hal-hal seksual.
6. Kencan dapat memberikan kebersamaan dalam
berinteraksi dan beraktivitas bersama-sama dalam hubungan dengan jenis kelamin
yang berlainan.
7.
Pengalaman kencan memberikan
kontribusi untuk mengenali proses pembentukan dan perkembangan identitas ;
kencan membantu para remaja untuk memperjelas perkembangan identitas mereka dan
untuk membedakan mereka dari keluarga mereka.
8.
Kencan dapat menjadi alat untuk
memilih dan menyeleksi pasangan, sehingga juga tetap memainkan fungsi awalnya sebagai
masa perkenalan untuk hubungan yang lebih jauh.
Berdasarkan penelitian, bagi remaja
awal dan remaja akhir fungsi berkencan dititik beratkan atau menonjol pada
egosentris atau memuaskan dirinya sendiri yaitu sebagai sarana rekreasi.
Sedangkan pada remaja akhir fungsi berkencan sudah mulai dititik beratkan untuk
menjalani keakraban ; adanya timbal balik dalam hubungan kencan. Terdapat
beberapa alasan remaja masa kini untuk berkencan, diantaranya adalah :
1.
Ingin menjadikan kencan sebagai
sarana hiburan.
Dimana diharapkan untuk pasangan dapat memberikan keinginan
pasangannya dan selalu menyenangkan hatinya.
2.
Ingin tetap menjadi bagian dari
anggota kelompok dan ikut dalam kegiatan sosial kelompok.
3.
Ingin menmdapatkan status
sosial yang lebih baik, dimana pasangan kencan adalah orang yang memiliki
status sosial atau ekonomi yang tinggi, hal tersebut dapat meningkatkan status
dalam kellompok sebaya.
4. Ingin merencanakan hubungan yang lebih
matang dengan perkawinan.
5.
Ingin memilih seorang teman
hidup yang terbaik.
Remaja
menginginkan teman hidup yang cocok dengan dirinya, kesamaan minat, temperamen
dan cara pengungkapan kasih sayang.
C. Pola dan Aturan Kencan
Pria dan Wanita
Secara umum dalam berhubungan seorang wanita lebih
menitik beratkan pada perhatian dan kasih sayang dari pasangannya. Namun, remaja laki-laki lebih tertarik
kepada minatnya terhadap hal-hal seksual. Tak dapat dipungkiri bahwa masing-
masing dari mereka memiliki minat yang sama dalam hal seksual seiring dengan
lamanya masa mereka berpacaran. Tetapi laki-laki lebih puas untuk melibatkan
diri secara seksual dengan pasangannya.
Aturan Kencan (dating script) adalah suatu model
kognitif yang digunakan oleh remaja dan dewasa dalam membimbing dan
mengevaluasi interaksi kencan mereka. Dalam berkencan laki-laki dan wanita
memiliki peranan yang berbeda, yaitu :
1. Para pria mengikuti aturan kencan yang pro
aktif(yang mengajak kencan, mempersiapkan tempat, sarana transport, dan memulai
interaksi seksual.)
2. Para wanita mengikuti kencan yang reaktif
(yang diajak kencan, meperhatikan penampilan, dan menikmati kencan yang telah
disiapkan.)
Konteks
sosiokultural juga memberi pengaruh kuat dalam pola berkencan remaja (Xiaohe
dan Whyte, 1990), dimana nilai-nilai dan keyakinan agama manusia dari berbagai
kebudayaan sering kali mengatur usia berkencan dimulai, beberapa banyak
kebebasan berkencan yang diperbolehkan, apakah butuh pengawasaan orang dewasa,
serta peran laki-laki dan perempuan dalam berkencan. Misalnya, budaya Islam
yang tidak memperbolehkan pacaran (yang pada umumnya identik dengan kontak
fisik), melainkan sekadar proses saling mengenal satu sama lain, tanpa adanya kontak fisik.
D. Ketertarikan Remaja Pria
dan Wanita
Ada beberapa hal yang berpengaruh menggenai apa yang membuat remaja saling
tertarik.
1. Konsep Validasi Kelompok (Consensual
Validation), menjelaskan bahwa remaja memiliki kecenderungan menyukai seseorang
yang miriip dengannnya (bukan secara fisik). Aktifitas, sikap, dan tingkah
lakunya akan di validasi atau didukung saat seseorang memiliki sikap tingkah laku
yang mirip dengannya.
2.
Ketertarikan fisik.
3.
Konsep Hipotesa Kecocokan
(Matching Hypothesis)
Menjelaskan bahwa
walaupun remaja lebih memilih seseorang yang terlihat menarik, namun pada akhirnya
mereka akan memilih seseorang yang lebih dekat dengan konsep kemenarikan mereka
sendiri. Terdapat banyak hal lain yang lebih penting bagi suatu keakraban dan
hubungan dibandingkan dengan hanya daya tarik fisik.
E. Mitos-mitos dalam Pacaran
1. Berhubungan seks dengan pacar merupakan
bukti cinta.
Faktanya, berhubungan seks bukan merupakan cara untuk menunjukkan
kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan lebih disebabkan adanya
dorongan sensual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk mencoba-coba. Rasa
sayang dapat ditunjukkan dengan cara yang lain.
2. Memberi hadiah berupa pakaian dan parfum
sa\at masih pacaran bias menyebabkan putus.
Faktanya, itu hanyalah pemberian untuk pacar, tidak ada hubungannya
dengan pemberian hadiah terhadap putusnya hubungan dalam pacaran.
3. Pasangan yang memiliki persamaan hobi
dalam berpacaran akan awet.
Faktanya, pacaran tidak hanya karena
persamaan hobi, bisa saja karena hobinya sama. Kegiatan yang dilakukan jadi
monoton dan menyebabkan kebosanan. Jika hobi yang dimilki berbeda biasanya
kegiatan yang dilakukan akan lebih bervariasi.
4. Pasangan baru jadian diwajibkan mentraktir
teman agar awet.
Faktanya, tidak ada hubungannya antara
mentraktir teman terhadap awet atau tidaknya pacaran.
5. Memasang foto berdua dengan pasangannya di
dompet menyebabkan cepat putus.
Faktanya, hal itu tidak ada hubungannya sama sekali, memasang foto
bukanlah hal yang dapat membuat rusaknya hubungan.
F.
Sumbangan Pemikiran Mahasiswa
- Ciri-ciri pacaran yang sehat :
a.
Sehat fisik
Sehat fisik berarti
tidak ada kekerasan dalam berpacaran. Biarpun laki-laki secara fisik lebih
kuat, bukan berarti bisa seenaknya menindas kaum perempuan. Intinya, dilarang
saling memukul, menampar, apalagi menendang.
b.
Sehat emosional
Hubungan kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik
apalagi ada rasa nyaman, saling pengertian, dan keterbukaan. Kita tidak hanya
dituntut untuk mengenali emosi diri sendiri, tetapi juga mengenali emosi orang
lain. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mengungkapkan dan
mengendalikan emosi dengan baik. Kita juga tidak boleh melakukan kekerasan
nonfisik, marah, apalagi mengumpat-umpat orang lain, termasuk pacar kita.
c.
Sehat sosial
Pacaran tidak
mengikat. Artinya, hubungan sosial dengan orang lain harus tetap dijaga. Kalau
pagi, siang, dan malam selalu bersama pacar, akan memberikan efek yang tidak
baik dalam pergaulan luar. Kita tidak memiliki pergaulan luar yang seharusnya
dialami remaja kebanyakan. Dan bukan tidak mungkin, kita akan merasa asing di
lingkungan sendiri. Dalam sehat sosial termasuk di dalamnya adalah komunikasi.
Tiga model komunikasi:
i.
Pasif
Kita sulit untuk
mengekspresikan keinginan, perasaan dan pikiran kita. Hal ini akan berefek
buruk karena apa yang kita harapkan yidak sesuai dengan kenyataan.
ii.
Agresif
Dalam
mengekspresikan keinginan, pikiran, dan perasaan, kita cenderung mendominasikan
tidak ramah dan mengabaikan kepentingan orang lain. Model komunikasi seperti in
bisa memicu keretakan hubungan kita dengan orang lain.
iii.
Asertif
Ini gaya komunikasi yang paling baik. Kita bisa
bersikap tegas dalam mengekspresikan keinginan, perasaan, dan pendapat, tetapi
tetap menghargai orang lain juga menjadi pertimbangan sebelum kita
mengungkapkan keinginan. Misalnya, menolak dengan sopan dan memberikan alas an
yang masuk akal ketika pacar meminta hal yang aneh-aneh.
Cara berkomunikasi tidak mempengaruhi keberhasilan kita
berinteraksi dengan orang lain, tetapi lebih jauh lagi, mampu berkomunikasi
dengan baik menjadikan kita terampil berkomunikasi dengan menjadiakan kita
terampil dalam mengambil keputusan.
d.
Sehat seksual
Secara biologis, pada
masa remaja ini akan mengalami perkembangan dan kematangan seks. Tanpa
disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Kedekatan
secara fisik bisa memicu keinginan untuk melakukan kontak fisik. Kalau
diteruskan, bisa tidak terkontrol atau keterusan. Jadi, dalam berpacaran kita
harus saling menjaga. Artinya tidak melakukan hal-hal yang beresiko.
- Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pacar
Dalam hal memilih Sesutu memang terkadangmembuat kita pusing,
apalagi soal memilih pacar, masing-masing orang memiliki idealisme, atau
criteria yang paling cocok, yang perfeksionis, yang sempurna atau malah yang
bis apa adanya, memang tidak ada manusia
yang sempurna.
- Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pacar:
i.
Bentuk Fisik
ii.
Materi
iii.
Agama
iv.
Intelektual
v.
Kedewasaan
vi.
Hobi dan Minat
vii.
Pola pergaulan
viii.
Emosi
ix.
Orang tua
BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN
Contoh Kasus:
Kasus pada Masa Pacaran Cukup Tinggi
Sabtu, 20 Desember 2008 | 01:00 WIB
Kekerasan dalam bentuk fisik, yaitu seperti memukul dan menendang.
Adapun kekerasan dalam bentuk psikis bisa berupa pemaksaan, menghina,
mengekang, hingga cemburu berlebih yang berujung pada membatasi tindakan
positif pasangan. Kekerasan lain yang kerap muncul dalam pacaran adalah
menyangkut soal seksual.
Manajer Pendampingan Rifka Annisa, Mei Shofia Romas, Jumat (19/12),
mengatakan, setidaknya ada tiga penyebab mengapa kekerasan ini terjadi.
Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran remaja bahwa yang dialami merupakan
tindak kekerasan, adanya ketergantungan emosi dan anggapan masyarakat bahwa
remaja harus punya pacar, serta hubungan yang sudah telanjur jauh.
”Karena hubungan (pacaran) sudah telanjur jauh, tak mungkin lepas satu
sama lain. Ketika kekerasan itu terjadi, korban pun memilih tak bersikap,”
katanya.
Data kasus kekerasan terhadap pacar yang terjadi di DIY dan masuk ke
Rifka Annisa sejak 1994 hingga 2007 mencapai 703. Jumlah ini lebih rendah
dibandingkan kekerasan pada istri, 2.425. Kasus kekerasan pada perempuan
lainnya adalah perkosaan 281 dan pelecehan seksual 174.
”Hingga November 2008 tercatat 19 kasus kekerasan dalam pacaran, sedang
tahun 2007 ada 37,” katanya. Menurut Shofia, data ini belum mencerminkan
kondisi sesungguhnya. Jumlah kekerasan tak terlaporkan jauh lebih besar. (WER)
Sumber:
Pembahasan Kasus
Kebanyakan remaja yang
berpacaran saat sedang jatuh cinta, menganggap bahwa pacarnya adalah segalanya
dan membuatnya rela diperlakukan atau melakukan apapun untuk pacarnya. Hal
tersebut dapat dilihat pada kasus di atas, misalnya kekerasan dalam
bentuk fisik, yaitu seperti memukul dan menendang. Adapun kekerasan dalam
bentuk psikis bisa berupa pemaksaan, menghina, mengekang, hingga cemburu
berlebih yang berujung pada membatasi tindakan positif pasangan. Kekerasan lain
yang kerap muncul dalam pacaran adalah menyangkut soal seksual.
Oleh karena itu, sebesar apapun cinta yang kita rasakan pada mereka yang
melakukan kekerasan, tetap saja kita tidak dapat membiarkan hal ini terjadi.
Kekerasan adalah suatu hal yang harus kita laporkan, dengan demikian pelaku
dapat memperoleh penanganan yang tepat (konseling dan terapi). Karena dengan
mendiamkan atau tidak melaporkan kekerasan yang terjadi, baik yang kita alami
maupun yang dialami oleh teman kita, sama saja artinya kita membiarkan
kekerasan itu terjadi, dan hal tersebut tentu bukan sesuatu hal yang kita
inginkan. Peran orang tua sangat diperlukan dalam kasus tersebut, antara lain :
1. memenuhi kebutuhan fisik yang paling
pokok; sandang, pangan dan kesehatan
2. memberikan ikatan dan hubungan emosional,
hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan
emosional yang sehat dari seorang anak.
3. Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini
berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
4.
Membimbing dan mengendalikan
perilaku.
5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan
untuk membantu anak anda matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang
mandiri. Sebagian besar orang
tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
6. Mengajarkan cara berkomunikasi, orang tua
yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran kedalam kata-kata dan
memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan
berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti
ketakutan dan amarah.
7. Membantu anak anda menjadi bagian dari
keluarga.
8.
Memberi teladan.
BAB IV
PENUTUP
Pacaran pada hakekatnya adalah
sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antar
lawan jenis. Sehingga dalam menjalani hubungan pacaran seharusnya sesuai pada
hakekat sebenarnya.
Salah satunya dengan
menghindari kekerasan dalam pacaran, baik fisik maupun psikis. Pacaran adalah
media untuk mengenal lawan jenis sebaiknya dilakukan secara sehat agar tidak
meninggalkan luka fisik maupun psikis, yang mengakibatkan rasa trauma, yang
nantinya rasa trauma itu akan menghambat berbagai tugas perkembangan seseorrang
atau individu tersebut.
Pacaran yang merupakan salah satu tugas perkembangan
remaja, sebaiknya dilakukan sesuai norma dan aturan yang berlaku di lingkungan.
Diperlukan kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain
agar hubungan pacaran dapat berjalan sesuai dengan hakekat pacaran itu
sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock,
E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
Monks, F. J; Knoers, A.M.P; Haditono, S.R. 2006. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagianya.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Santrock, J. W. 2002. Life Span
Development: Perkembangan Masa Hidup
Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Santrock, J. W. 2003. Adolescence. Jakarta : Erlangga
Sarwono, S. W. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
diakses
pada tanggal 14 April 2009 pukul: 14.05 WIB
diakses pada tanggal 12 Mei
2009 pukul 10.21 WIB